Wednesday, April 11, 2018

Kebaikan Kepada Orang Lain Cenderung Membuahkan Kebaikan Lagi

Kebaikan Kepada Orang Lain Cenderung Membuahkan Kebaikan Lagi
“Tidak ada aksi kebaikan yang terbuang percuma” (Aesop)
Bob selalu ramah kepada orang lain, sewaktu kanak kanak, bob ramah kepada adik adiknya, selalu melindungi mereka, selalu membimbing mereka. Ketika bersekolah, bob membantu teman teman sesama mahasiswa yang kesulitan dalam pekerjaan rumah mereka, meminjamkan uang untuk makan siang, dan berusaha menjadi penengah ketika ada teman yang berselisih. Akhirnya, dengan ramah kepada orang lain, bob mengembangkan kepribadian yang hangat dan menyenangkan yang menarik banyak orang di sekelilingnya, membantunya meluaskan wawasannya, secara emosional dan spiritual
Cerita tentang Bob merupaka ilustrasi aturan hidup:
“Kebaikan kepada orang lain adalah kebiasaan bagus yang mempunyai pengaruh jangka panjang yang mendukung dan memperkuat pencarian kehidupan yang membahagiakan. Membantu orang lain membuahkan rasa puas kepada kedua belah pihak- sang penerima, orang yang menerima bantuan, dan sang pemberi, orang yang memberikan bantuan. Sejalan dengan waktu, orang yang biasa berbuat baik mengembangkan kepribadian yang bersahabat dan ceria yang menarik semua yang berhubungan dengannya dan menularkan keramahanya kepada mereka”
Banyak hal besar di dunia berbicara tentang kewajiban untuk berbuat baik kepada sesama. Akan tetapi, perbuatan baik ini sering dianjurkan sebagai sebuah investasi demi keselamatan di masa yang akan datang. Namun tidak demikian halnya dengan para filsuf Yunani kuno, yang memandang kebaikan melalui kacamata akal budi. Mereka menekankan pengaruh pengaruh positif perbuatan baik yang tidak hanya bagi sang penerima namun juga bagi sang pemberi, bukan demi keselamatan jiwa dalam kehidupan mendatang melainkan dalam kehidupan yang sekarang. Untuk sederhananya, keramahan cenderung berbalik kepada mereka yang melakukannya, seperti yang ditunjukkan oleh Aesop dalam dongeng binatang yang bersemangat tentang seekor tikus kecil yang memotong jaring untuk membebaskan seekor singa besar. Aesop hidup pada abad ke 6 sebelum masehi dan meraih reputasi besar di zaman keemasan klasik itu untuk pengajarannya yang ditawarkan melalui cerita cerita menariknya. Kendati berabad abad telah berlalu, nasehat nasehat Aesop telah teruji oleh waktu, karena sesungguhnya, ajarannya merupakan pengamatan terhadap keadaan manusia tanpa batas waktu, sehingga tetap relevan dan bermakna untuk zaman ini, sama seperti untuk lebih dari 2000 tahun yang silam.
Sesungguhnyalah, orang Yunani kuno tidak seidealistis yang kadang kadang mereka gambarkan. Bahkan para filsuf dan penyair besar di antara mereka memiliki kecenderungan yang kuat terhadap asas kemanfaatan (utility) dalam banyak ajaran mereka, termasuk pandangan tentang perbuatan perbuatan baik. Gagasan tentang perbuatan baik sebagai akhir dalam dirinya sendiri atau sebagai masalah tugas pribadi jelas bukan bagian dari wawasan moral mereka. Kendati demikian, pada waktu yang sama kesadaran mereka atas kemanfaatan dalam hal hal macam itu bukan perbuatan bodoh atau kurang pikir panjang. Bagi Aesop, perbuatan baik bukan masalah hitung hitungan, perbuatan baik bukan sekedar investasi sadar yang dibuat dengan harapan untuk mendapatkan dividen. Sebaliknya, yang ia sarankan adalah bahwa penerima kebaikan cenderung mengembalikan kebaikan serupa kepada mereka yang pernah berbuat baik, semacam timbal balik dalam hukum karma. Maka dalam dongeng binatang, Aesop, ketika singa kehilangan harapan karena terkurung dalam sebuah jaring, ternyata tikus yang semula dipandang rendah oleh singa justru datang untuk menggigit jaring sampai putus dan membebaskan sang singa, sebuah perbuatan baik spontan yang dalam situasi tersebut sangat di luar dugaan
Dalam zaman kita yang sekarang, dasar pemikiran Aesop bahwa tidak ada kebaikan yang sia sia menyampaikan dua pesan yang sangat tegas untuk hubungan hubungan modern yang cenderung mendorong penonjolan diri dan memajukan ego individu. Pesan pertama adalah bahwa kita makhluk sosial, bahka kita memerlukan orang lain guna memenuhi kebutuhan kita sendiri. pesan ini sering hilang ketika begitu banyak waktu dan energy dikerahkan untuk mengutamakan kepentingan sendiri, dan menyia nyiakan peluang kecil untuk menggapai orang lain. Setidaknya, sebagian perilaku neurotis yang kita saksikan dalam masyarakat modern, pengasingan diri, penyalahgunaan obat, depresim jelas sekali berkaitan dengan ketiadaan hubungan sosial yang bermakna. Bagi Aesop, kebajikan manusia dapat dipandang sebagai unsur pemudah dalam membangun ikatan ikatan sosial. Ketika isyarat isyarat keramahan tidak ada, orang akan melihat dinding penghalang, maka mereka tidak bersedia memberikan kepercayaan mereka atau membuat komitmen. Akan tetapi, ketika ada seseorang yang menunjukkan sebuah peluang dan menawarkan ekspresi ramah yang tulus kepada orang lain, sesuatu bukan utang melainkan diberikan begitu saja, dinamika sosial secara keseluruhan akan berubah. Kini jalan untuk membentuk hubungan yang nyata menjadi jelas, untuk membangun sesuatu yang dapat disebut hubungan aku dank au. Perlu dicatat bahwa hubungan hubungan ini tergolong jenis yang paling penting dalam hidup
Pesan kedua adalah bahwa perbuatan baik memiliki pengaruh positif bagi pihak yang memberi. Kita dapat melakukan penelitian atas gagasan bahwa kemurahan hati kepada orang lain menyumbang pembangunan manusia di pihak yang mempraktekkan tindak kebaikan itu. Ketika menolong orang lain kita mengembangkan diri kita sendiri, secara emosional dan spiritual. Sebagai manusia, kita mengalami pertumbuhan, mendapatkan pemahaman baru atas diri sendiri dan keterikatan kita kepada orang lain. Lebih dari semua itu, bersikap baik kepada orang lain dapat menghadirkan rasa puas yang nyata sekali. Para pelaku perbuatan baik, mereka yang tidak mengajukan pertanyaan, “apa balasannya bagi saya?”, namun melakukannya begitu saja cenderung mengalami suatu rasa puas yang nyata sekali dalam hati mereka, rasa puas yang membuat mereka merasa ditinggikan dan dimuliakan. Individu seperti itu berhak untuk memandang diri secara positif karena mereka lebih lengkap dalam pengembangan kepirbadian daripada orang lain
Secara keseluruhan, perbuatan baik menciptakan kesempatan nyata untuk menjalin hubungan hubungan dengan mendobrak dinding dinding yang mengisolasi dan memecah belah manusia. Dalam istilah pengembangan kepribadian, kemurahan hati kepada orang lain mungkin memberikan pengaruh aktualitasi diri yang membuat sang pemberi naik ke tataran yang lebih tinggi dalam pemenuhan dan kepuasan spiritual. Selain itu, kita boleh berharap bahwa orang orang dengan hati yang tulus menciptakan lingkungan yang menjadikan mereka penerima kebaikan kebaikan yang serupa, seperti singa yang menerima kebaikan sang tikus kecil
Renungan:
Murah hatilah kepada orang lain secara bijaksana
Kemurahan hati menciptakan kesempatan kesempatan untuk meruntuhkan dinding dinding yang mengisolasi dan memecah belah
Kebaikan membuahkan rasa puas yang nyata sekali
Perbuatan baik yang sejati tidak hitung hitungan, bukan investasi sadar yang dibuat dengan harapan akan mendapatkan dividen
Penerima perbuatan baik cenderung membalas perbuatan baik itu kepada pihak pemberi


Jangan Jahat Pada Orang Lain

Jangan Jahat Pada Orang Lain
Orang yang berbuat jahat kepada orang lain sesungguhnya berbuat jahat kepada diri sendiri (Hesiod)
Patrick selalu menjadi orang yang senang menyusun taktik dan siasat, memanipulasi orang lain dan sengaja menyusahkan mereka. Ketika masih bersekolah, ia biasa membuat sesama mahasiswa bermasalah  dengan dosen dengan memberi mereka tugas pekerjaan rumah yang berbeda atau jawaban yang salah, dan ia sering mengadukan sesama mahasiswa dengan menyebarkan kabar burung dan tuduhan tuduhan palsu. Ketika ia mendapatkan pekerjaannya yang pertama sebagai konsultan penjualan di sebuah departemen store, ia menaikkan kadar keisengannya. Ia menyebar desas desus untuk menjatuhkan mitra mitra kerjanya dan atasannya. Kadang kadang motifnya hanya imbalan bonus yang besar atau promosi jalan pintas. Pada kesempatan lain, motifnya hanya untuk membuat orang lain tampak buruk sedangkan ia sendiri tampak baik. Dalam kasus mana pun, perbuatan tidak menyengkan kepada orang lain itu menjadi kebiasaan yang menggerogoti kepribadiannya serta meracuni hubungan hubungannya menjadikannya sosok yang tidak pernah nyaman, pemarah, pemurung, dan emosional, dan selalu hidup dalam ketakutan bahwa orang lain akan berbuat sama seperti yang pernah ia lakukan kepada mereka
Kisah Patrick ini merupakan ilustrasi untuk aturan hidup:
“Perbuatan jahat adalah kebiasaan yang berbahaya, semacam reflex yang terlalu mudah menjadi pilihan atau terlalu mudah dicarikan pembenarannya dan memiliki pengaruh jangka panjang serta merusak terhadap upaya pencarian kehidupan yang baik. Perbuatan jahat mengambil dua korban sekaligus – sang korban, orang yang mengalami tindak kejahatan, dan sang pelaku, orang yang menjalankan kejahatan. Sejalan dengan waktu perbuatan jahat berkembang, makin buruk, sampai menggerogoti kepribadian keseluruhan, menjadikan sang pelaku sosok emosioanl dan mengalami gangguan kejiwaan”
Masyarakat masa kini sarat dengan pesan pesan yang membingungkan ketika berurusan dengan perilaku manusia manusia di dalamnya. pesan dalam tradisi tradisi religious yang berakar, misalnya, bahwa berbuat jahat kepada orang lain, adalah dosa, kepercayaan yang sama memuji perbuatan perbuatan baik seperti murah hati, memaafkan, amal, mengasihi, dan sikap tidak melawan. Namun, sebagaimana diketahui oleh kita semua, dalam praktik gagasan gagasan yang bagus itu cenderung tidak memadai. Masyarakat modern adalah sebuah lingkungan yang kompetitif, keras, dan sangat cenderung mendukung upaya menguntungkan diri sendiri sambil mengorbankan kepentingan orang lain.
Dalam kondisi kondisi seperti ini, tidak mengejutkan jika orang sering sudah siap untuk merugikan sesama mereka sendiri. kegiatan kegiatan ini sering dibenarkan melalui alasan alasan seperti “pembayaran utang”, “pengimpasan”., atau “melakukan dahulu kepada orang lain sebelum orang lain melakukannya kepada kita”, yang tersirat dalam semua ungkapan tadi adalah pandangan bahwa kejahatan kepada orang lain dapat dibenarkan berdasarkan aksi pembalasan atau sebagai saksi pencegahan dalam mengantisipasi perbuatan serupa dari orang lain.
Yang tidak dipertimbangkan di sini adalah pengaruh upaya upaya tersebut terhadap pihak pihak yang melakukannya. Budaya kita telah secara naïf mengandaikan bahwa pengimpasan atau aksi balas dendam adalah reaksi yang dapat diterima untuk perbuatan tidak menyenangkan kepada orang lain, bahwa perbuatan buruk boleh dibalas dengan perbuatan serupa. Yang gagal kita pahami adalah dampak psikologis, emosional, dan spiritual dari perbuatan jahat kepada pelakunya sendiri.
Hesiod adalah penyair Yunani kuno yang menentang perbuatan jahat dari sudut pandang rasional. Ia mengenali dua aspek sangat penting seputar pengaruh perbuatan jahat pada pihak yang melakukannya. Pertama, perbuatan jahat dapat dengan mudah menjadi kebiasaan, semacam reflex yang bisa terjadi begitu saja dan terlalu mudah untuk dibenarkan. Kedua, individu individu yang mengembangkan kebiasaan menjahati orang lain mengalami pemiskinan spiritual, martabat mereka sebagai manusia menurun dan pada gilirannya menyulitkan pencapaian kehidupan yang bahagia. Ini mengandung arti bahwa perbuatan jahat memiliki efek boomerang. Ketika seseorang mencelakai orang lain, ada dua orang yang menjadi korban, penerima tindak kejahatan dan pihak yang melakukan kejahatan. Akibat perbuatan jahat seperti inilah yang sulit dipercaya atau diterima oleh kebanyakan orang zaman sekarang. Yakni, bahwa, mencelakai atau merugikan orang lain mendatangkan semacam luka spiritual bagi diri sendiri yang akhirnya membuat pihak pelaku kejahatan merasa tidak nyaman, menjadi pemarah, dan kehilangan kebahagiaan. Pelaku kejahatan juga menderita hilangnya kesempatan menghirup udara segar yang berfungsi sebagai pembersih, sumber yang memungkinkan orang mengalami peningkatan spiritual
Sebaliknya, mereka yang secara konsisten menahan diri dari menyusahkan orang lain, bahkan ketika berbuat demikian mungkin didukung oleh standar konvensional, sering mendapatkan imbalan dalam wujud kepuasan dan kedamaian di dalam hati. Tidak seperti mereka yang membuatkan perbuatan jahat mengintervesi jiwa mereka, orang yang tetap unggul terhadap naluri naluri dasar ini sering mengalami kepuasan diri menonjol yang berpangkal dari disiplin dan pengekangan diri yang tidak lazim. Mereka akhirnya merasakan bahwa mereka hidup di tingkat spiritual yang lebih tinggi setelah meninggalkan kebiasaan membalas dendam, alih alih menghabiskan energy untuk membuat taktik dan siasat, orang yang menghindar dari perbuatan menjahati orang lain memiliki kesempatan untuk memusatkan upaya upaya mereka pada kegiatan kegiatan konstruktif yang menghasilkan ketentraman dan kebahagiaan. Kehidupan mereka lebih kaya dan lebih terpuaskan karena menolak mengorbankan martabat dan kebahagiaan mereka dengan melakukan tindakan tindakan yang dapat menurunkan derajat mereka sebagai manusia yang berfungsi dengan benar
Perlu dicatat bahwa orang Yunani kuno bukan pasifis dalam hal ini. Hesiod tidak menganjurkan kita memberikan pipi kanan setelah orang yang menampar pipi kiri, dan ia tidak pernah menganjurkan orang agar tidak mempertahankan diri terhadap maksud jahat musuh. Ia hanya berpesan demikian: bahwa manusia tidak boleh hanya menghindar dari mengotori jiwa mereka dengan kejahatan, mereka juga harus berbuat dengan segala kekuatan yang ada untuk mengalami kebahagiaan dari menjadi manusia yang baik
Renungan:
Jangan mengotori jiwa kita dengan kejahatan
Perbuatan jahat adalah kebiasaan yang berbahaya, ia merugikan baik sang korban maupun sang pelaku
Pelaku kejahatan tidak pernah merasa nyaman, pemarah, pemurung, dan mengalami gangguan jiwa
Carilah pengalaman yang membahagiakan dari menjadi manusia yang baik

Pusatkan upaya anda pada kegiatan kegiatan konstruktif yang menghasilkan ketentraman dan kebahagiaan

Tuesday, April 10, 2018

Jangan Berlebihan

Jangan Berlebihan
Jangan ada yang berlebihan (Solon)
Dalam hampir setiap aspek kehidupannya. Marisa selalu menjadi perempuan yang berlebihan. Pada suatu saat ia begitu cermat mengendalikan dietnya, sampai hampir kelaparan. Pada waktu yang lain, ia melahap hampir apapun yang ada di depannya. Ada kalanya pada akhir pekan, ia pergi ke luar sampai sepanjang malam. Ada kalanya pada akhir pekan ia tinggal di rumah berbaring seharian menonton opera sabun. Kadang kadang, ia mengumbar nafsu belanjanya, menggunakan kartu kredit sampai utangnya tak terkendali untuk hal hal yang tidak ia gunakan. Pada kesempatan lain, ia malahan tidak membeli kebutuhan pokok seperti kopi, susu, dan roti
Marisa mencontohkan orang orang yang membiarkan diri hidup dalam dunia yang berlebihan, menggarisbawahi aturan hidup yang menggunakan akal budi, antara lain:
“Jalani Hidup dalam harmoni dan keseimbangan. Jangan berlebihan, tetaplah di tengah, di antara titik titik. Bahkan untuk hal hal baik, mengejar atau mendapatkan secara berlebihan, dapat menjadi sumber kesengsaraan dan penderitaan”
Aturan ini diagaungkan dalam tulisan pemikir pemikir Yunani kuno yang memandang hidup secukupnya sebagai salah satu solusi untuk menghindari masalah. Gagasan untuk menghindari banyak godaan untuk hidup berlebihan adalah resep utama untuk menjalani hidup secara benar, sebagaimana diringkaskan dalam nasehat Solon, “Jangan ada yang berlebihan” (abad ke 6 sebelum masehi). Para pemikir Yunani itu telah memahami sepenuhnya tingginya kerugian akibat mengumbar nafsu. Mereka memahami dengan benar bahwa ketika orang melanggar batas batas kewajaran, mereka membayar denda yang berkisar antara frustasi sampai malapetaka yang dahsyat. Oleh sebab itulah, mereka menjunjung nilai nilai seperti: keterukuran, keseimbangan, keselarasan, dan kesebandingan dalam apapun yang mereka perbuat, dengan parameter parameter yang memungkinkan kehidupan produktif dapat berkelanjutan. Di pihak lain, seandainya gaya hidup berlebihan sampai merusak harmoni dan keseimbangan, maka hidup yang layak dijalani menjadi mustahil diraih.
Ajaran ajaran ini sama mendesak dan sama menariknya untuk zaman ini sebagaimana pada zaman dulu, kalau tidak lebih besar, tidak seperti para pendahulu kita pada zaman dahulu, kita hidup di zaman yang penuh dengan kesempatan kesempatan untuk berkelimpahan dan melakukan pemborosan, sesungguhnyalah masyarakat kita mendorong dan merangsang ketidakseimbangan dalam segala macam bentuk, dalam cara makan, dalam cara berbusana, dalam kehidupan rumah tangga, dalam cara mengemudi, dan dalam mencari hiburan. Kita sering membeli makanan yang ternyata tidak pernah kita makan, pakaian yang tidak pernah kita pakai, dan mobil yang jarang kita pakai
Apabila diperbandingkan, kehidupan di zaman kuno serba sederhana. Tingkat teknologi dan perkembangan bahan jelas primitive berdasarkan standar standar modern. Sehubungan dengan itu, kesempatan kesempatan untuk mengalami godaan jauh lebih sedikit. Dengan kata lain, peluang peluang untuk hidup secara berlebihan dua ribu tahun yang lalu jauh lebih sedikit dibanding peluang peluang yang sama saat ini. Kebudayaan modern tidak hanya menghasilkan godaan yang luar biasa banyak, ia juga mengembangkan cara cara untuk memajukan dan membujuk orang untuk hidup dengna cara kelewat ekstrim. Secara khusus, iklan iklan telah memunculkan kesan seolah olah pandangan yang benar adalah bahwa hidup harus dijalani secara maksimal, yaitu makan lebih banyak, uang lebih banyak, hidup lebih mewah, kekuasaan lebih besar. Pesan dalam kebudayaan modern jelas, “batas hanya bagi para pecundang”, akibatnya mereka yang dengan segera mencoba hidup berdasarkan prinsip kesebandingan dan keselarasan dipandang sebagai naïf dan menyimpang dari gaya hidup yang baik”
Yang perlu dipertimbangkan di sini adalah pengaruh buruk budaya yang mendewakan gaya hidup berlebihan. Dalam sebuah siaran televisi belum lama ini yang memuji gaya hidup kaum kaya dan terkenal, sepasang sepatu basket berhiasan berlian yang dipamerkan katanya seharga 50.000 dollar. Pertunjukkan yang sama juga menampilkan sebuah arlogi seharga 1 juta dollar dan sebuah rumah di Florida Selatan seharga 30 juta dollar. Kita semua harus tahu apa arti semua itu, mereka tidak hanya pelanggaran atas makna, mereka secara murahan memperolokkan apapun yang terkait dengan batas. Komoditas seperti ini jelas menunjukkan sebuah penyakit sosial yang mencerminkan nilai nilai yang diselewengkan. Sayangnya, yang biasanya ditemukan oleh para penggila kemewahan ini pada suatu saat kelak adalah bahwa nilai nilai yang diselewengkan itu pada akhirnya menghasilkan gaya hidup yang menyimpang. Pelajaran yang dipetik dari hidup yang gemerlapan adalah bahwa gaya hidup berlebihan adalah pencuri kebahagiaan sejati. Mobil yang mewah tidak kebal terhadap perceraian, filter rokok bukan perlindungan terhadap ketagihan obat terlarang, dan rumah besar di Hollywood tidak membebaskan anda dari kursi terapis
Menjalani hidup dalam keseimbangan dan tidak berlebihan bukan berarti hidup miskin seperti biarawan sejati. Makanan baik dan perlu untuk menunjang kehidupan, tetapi makan berlebihan atau hal hal yang berlebihan sama dengan penyimpangan. Kesejahteraan material sesuatu yang diinginkan dan perlu dalam kehidupan yang baik, tetapi baik kekayaan berlebihan maupun kemiskinan yang menyengsarakan tidak baik untuk kebahagiaan manusia. Lebih dari semua itu, pesan Solon meliputi gagasan bahwa bahkan hal hal yang baik, ketika dikejar atau diraih secara berlebihan, dapat menjadi sumber kesengsaraan. Kunci dalam hal ini adalah mengenali bahwa ada situasi situasi yang ketika kurang berarti lebih. Ini khususnya pelajaran yang sulit kita terima di zaman modern mengingat berkelimphan yang tersedia secara nyata dimana mana. Meski demikian, jika hidup tidak memiliki keseimbangan yang tersirat dalam ungkapan “jangan ada yang berlebihan”, kita tidak akan pernah mengalami kepuasan fisik, mental, dan spiritual, yang diperlukan untuk hidup yang layak dijalani. Hidup dalam keseimbangan dengan demikian merupakan aturan untuk hidup yang sangat tidak boleh diabaikan.
Renungan:
Carilah keselarasan, keseimbangan dan kesebandingan
Pertahankanlah makna hidup, hindari hidup yang berlebihan
Bahkan hal hal yang baik, yang dikejar dan didapatkan secara berlebihan, dapat menjadi sumber kesengsaraan
Gaya hidup berlebihan adalah pencuri kebahagiaan sejati

Dalam situasi tertentu, kurang sesungguhnya berarti lebih

Menghargai Persahabatan

Menghargai Persahabatan
“Persahabatan adalah hubungan ketika dua orang saling berbagi jiwa yang sama” (Aristoteles)
Gloria memiliki bisnis yang sukses. Ia tinggal di sebuah rumah besar dengan perabotan yang anggun. Ia mengendarai sebuah mobil keluaran terakhir, dan berbelanja di toko toko terbaik di kotanya. Akan tetapi, ia tidak puas dengan kehidupannya. Walaupun ia mengenal banyak orang, yang pada saatnya dapat ia anggap teman, ia masih mendambakan hubungan timbal balik yang sejati. Ia sering merasa kesepian dan tertekan. Masalah yang dihadapi oleh Gloria telah menjadi terlalu umum dalam masyarakat modern. Ia tidak pernah sampai memahami bahwa persahabatan adalah sebuah hubungan yang terkait dengan kepercayaan, diukur berdasarkan kualitas, bukan kuantitas, tetapi selalu merancukan persahabatan dengan hubungan saling ramah dan “hubungan berasas kemanfaatan”, ia merasa memiliki “teman puluhan”.
Helen bekerja sebagai sekertaris di sebuah perusahaan kecil, ia tinggal di sebuah apartemen sederhana, dengan perabotan seperlunya saja. ia mengendarai sebuah mobil tua dan berbelanja di toko toko yang memberi potongan. Akan tetapi ia puas dengan kehidupannya, ia jarang merasa kesepian atau tertekan, dan tidak pernah sampau berobat ke terapis. Rahasia Helen adalah ia mempunyai dua orang teman baik yang mendampinginya dan berbagai tawa atau tangis dalam kehidupan merasa kesepian atau tertekan, dan tidak pernah sampai berobat ke terapis. Rahasia Helen adalah ia mempunyai dua orang teman baik yang mendampinginya dan berbagi tawa atau tangis dalam kehidupan mereka. Ia paham bahwa persahabatan diukur dengan kualitas, bukan kuantitas, dan ia tidak pernah merancukan “hubungan berasas kemanfaatan” (utility relationship) dan hubungan basa basi dengan persahabatan sejati. Ia telah menginvestasikan waktu dan energy untuk mengembangkan persahabatan yang murni
Kisah Gloria dan Helen tepat sekali untuk membahas aturan hidup berikutnya:
“Persahabatan adalah keterikatan timbal balik yang memenuhi kebutuah afiliasi, persahabatan tidak dapat dibeli, tetapi harus dikembangkan dan dijunjung melalui hubungan saling percaya”
Menurut filsafat Yunani, salah satu karakteristik utama manusia yang membedakannya dari bentuk bentuk kehidupan lain adalah naluri sosial yang tertanam secara mendalam, kebutuhannya terhadap asosiasi dan afilisasi dengan sesama, kebutuhannya terhadap persahabatan. Socrates, Plato, dan Aristoteles memandang pembentukan masyarakat sebagai cerminan kebutuhan mendalam terhadap afiliasi yang manusiawi, tidak hanya sebagai hubungan berasaskan perjanjian antara individu individu yang tanpa hal itu saling terpisah. Dewa dan satwa tidak memiliki kebutuhan seperti ini, tetapi bagi manusia ini aspek yang tidak dapat dipisahkan dalam hidup yang layak dijalani karena orang tidak dapat berbicara tentang jati diri manusia yang utuh, atau kebahagiaan yang sejati, tanpa ikatan asosiatif yang disebut “persahabatan”. Sebesar apapun kekayaan, status, atau kekuasaan tidak cukup untuk dipertukarkan dengan kehidupan yang sudah lengkap dengan teman teman yang sejati
Persahabatan “sejati” ditentukan oleh logika yang sangat kualitatif, yaitu, persahabatan adalah sebuah keintiman spiritual langka yang hanya dapat saling dibagikan di antara beberapa orang saja. akibatnya, seseorang mungkin hidup sampai usia lanjut tetapi hanya memiliki tiga atau empat teman sejati. Terlalu banyak orang mengira mereka beruntung karena dapat menyebutkan nama lima puluh atau enam puluh orang sebagai teman teman mereka. Pada hakikatnya, angka angka seperti ini tidak menunjukkan baik kemujuran maupun popularitas yang luar biasa, tetapi sungguh sungguh sebuah pemahaman yang keliru tentang persahabatan yang sejati. Secara khusus, mereka yang bangga ketika dapat menyebutkan puluhan nama teman mereka, sebetulnya telah merancukan pertemanan yang ramah dengan persahabatan sejati. Seseorang tidak dapat bersahabat dengan segerombol orang karena persahabatan menuntut kesediaan untuk mengorbankan diri bagi kepentingan orang lain. Rasa sayang yang sedalam itu hanya dapat terjadi dalam batas batas yang sangat sempit. Oleh sebab itu, persahabatan sejati bukan untuk dipahami secara kuantitatif, karena sesuai sifat dasarnya, persahabatan akan hanya terjalin dalam suatu hubungan yang memiliki kualitas tinggi
Orang macam apa yang mampu menjalin hubungan persahabatan sejati?, terlepas dari naluri sosial kita yang kuat, ada orang yang tidak akan pernah mampu membangun, apalagi memelihara, apapun yang setara dengan ikatan persahabatan, sebab persahabatan menuntut kedua belah pihak memiliki prinsip koral tertentu. Persahabatan, lebih dari segalanya, adalah sebuah hubungan saling percaya. Bagi individu-individu yang secara moral tidak dapat menghormati dan mempertahankan kepercayaan yang diberikan kepada mereka oleh orang lain, macam persahabatan seperti yang dimaksudkan di sini tidak mungkin terjadi. Ini menjelaskan mengapa penjahat, apapun kalibernyam mustahil menjalin persahabatan. Hubungan di antara mereka pada dasarnya selalu saling memangsa dan karena itu, tidak konsisten, dengan keterikatan timbal balik yang diperlukan untuk membentuk persahabatan sejati. Hubungan maksimal yang dapat dibangun oleh mereka yang memiliki kecenderungan jahat adalah persekutuan sementara, yang didorong oleh motif motif tidak murni, yang akhirnya membuat persahabatan mustahil dipahami.
Persahabatan juga dirancukan dengan persahabatan semu, atau “hubungan berasa kemanfaatan”, yang telah menjadi kelaziman belakangan ini. Banyak orang secara keliru percaya bahwa hubungan berazaskan kemanfaatan adalah gambaran yang dapat diterima untuk persahabatan, padahal tidak demikian. Hubungan saling memanfaatkan, bisa berwujud hubungan berlandaskan perjanjian, hubungan kerjasama financial, terkait dengan ketertarikan politik tertentu, namun tidak satu pun hubungan hubungan ini boleh dirancukan dengan persahabatan karena pada umumnya hubungan tersebut digerakkan oleh suatu motif yang tersembunyi. Itulah yang terjadi pada persahabatan George. Sebagai direktur utama sebuah perusahaan besar, ia sesumbar bahwa temannya banyak sekali. Setiap hari, selalu ada seseorang yang mengundang ia dan keluarganya ke acara santap malam. Daftar hadir pesta natalnya berisi nama orang orang yang tidak pernah menolak undangannya. Namun sebagian besar persahabatan ini termasuk hubungan berasas kemanfaatan, persekutuan financial yang berakhir begitu ia turun dari jabatannya
Kepentingan financial, pertimbangan politik, dan kemungkinan membangun kontak yang berguna bukan landasan yang tepat untuk persahabatan sejati. Sebaliknya, mereka menyiratkan sebuah eksploitasi yang tak diucapkan ketika seseorang entah bagaimana dimanfaatkan untuk kepentingan orang lain. Yang biasanya tidak ada dalam hubungan hubungan ini, terlepas dari kesenangan kesenangan dahsyat yang sering menyertai mereka, adalah kepedulian bermakna antara yang satu dan yang lain, salah satu ciri yang tidak terpisahkan dari persahabatan sejati
Pendek kata, persahabatan adalah sebuah ikatan mendekati suci antara dua atau beberapa orang, dengan kemuliaan timbal balik yang menuntut tugas, kewajiban, komitmen dan pengorbanan, sebuah persyaratan sulit dan menantang yang jarang ditemukan dalam sebagian besar hubungan yang ada dalam hidup. Namun, ketika entah kapan kita cukup beruntung untuk mengembangkan hubungan seperti itu, kehidupan kita seluruhnya akan berubah. Semua yang kita alami memiliki suatu makna baru ketika kita berada dalam posisi untuk berbagi secara penuh dengan orang yang telah menjadi another self. Tidak ada kekuatan, uang, atau status yang dapat menggantikan kegembiraan berharga dalam diri seorang teman sejati. Seperti kata Aristoteles, “persahabatan adalah hubungan ketika dua orang berbagi jiwa yang sama”, ketika teman sejiwa tidak ada, hidup kehilangan energy dan makna
Renungan:
Persahabatan adalah keterikatan timbal balik yang memenuhi kebutuhan afiliasi
Kekayaan dan kekuasaan bukan landasan untuk persahabatan
Persahabatan dikembangkan oleh hubungan hubungan yang berintikan kepercayaan dan kepeduliaan
Persahabatan tidak dirancukan dengan perkenalan basa basi atau “hubungan berasaskan kemanfaatan”
Persahabatan hanya dapat terjalin di antara beberapa orang yang saling menghormati dan sanggup memikul kepercayaan yang diberikan kepada meraka oleh pihak yang lain
Persahabatan harus dipahami secara kualitatif, bukan kuantitatif

Tanpa persahabatan, hidup akan kehilangan energy dan makna

Monday, April 9, 2018

Cemaskan Hanya Hal-Hal Yang Dapat Anda Kendalikan

Cemaskan Hanya Hal-Hal Yang Dapat Anda Kendalikan
“Jauhkan diri sepenuhnya dari nafsu, sebab jika anda mendambakan sesuatu yang tidak berada dalam kendali anda, kesialan akan menghantui mereka….Oleh sebab itu, siapapun yang ingin bebas, sebaiknya ia tidak menginginkan apapun, atau menghindari apapun, yang berada di bawah kendali orang lain, kecuali ia ingin menjadi budak…Tentang apa pun, jangan pernah mengatakan:”Aku sudah kehilangan dia”, tetapi katakanlah, “Aku telah mengembalikannya…Bukan benda benda itu sendiri yang mengganggu, melainkan penilaian orang terhadap benda benda tersebut” (Epictetus)
Pamela tidak pernah cemas tentang apapun yang ada dalam kendalinya, tentang hal hal yang dapat ia pilih untuk memilikinya atau tidak, ia berhenti kuliah, menikah dengan seseorang yang ia temui di sebuah bar hanya beberapa pekan sebelumnya dan berganti pekerjaan setiap bulan, ia selalu cemas untuk hal hal yang tidak berada dalam kendalinya, untuk hal hal yang terjadi di masa lampau, tentang menjadi tua, tentang perilaku orang tuanya, suaminya, anak anaknya dan atasannya. Ia menyalahkan mereka atas untuk apa pun yang tidak beres dalam kehidupannya, dan menyia nyiakan energy untuk mencoba mengubah mereka, semuanya tanpa hasil. Sekarang dengan usia hampir 70 tahun, sudah tiga kali bercerai. Pamela tinggal sendirian, berpindah pindah dari terapis satu ke terapis lain untuk mencari kesenangan dalam pikirannya dan kedamaian dalam jiwanya.
Sebaliknya, Tiffany selalu focus kepada hal hal yang ada dalam kendalinya, ia cermat ketika merencanakan pendidikannya dan ketika memilih suaminya, teman temannya, dan rekan rekannya. Ia tidak pernah merepotkan diri dengna hal hal yang terjadi di masa lampau, tidak pernah menyalahkan orang lain atas apapun yang tidak beres dalam hidupnya, dan tidak pernah memboroskan energy dalam upaya mengubah mereka. Kini dengan usia di awal 70 an, Tiffanny hidup bersama suaminya, mempunyai dua anak yang sudah dewasa yang sangat menghargainya, dan tidak pernah memerlukan jasa terapis untuk membereskan masalah masalahnya
Cerita tentang Pamela dan Tiffanny tepat untuk membahasa aturan hidup yang menggunakan akal budi:
“Cemaskan hanya untuk hal hal yang berada di bawah kendali anda, hal hal yang dapat dipengaruhi secara positif dan diubah melalui aksi aksi anda, bukan untuk hal hal yang di luar kemampuan anda untuk mengatur atau mengubah mereka”
Aturan ini meringkaskan beberapa ciri penting kearifan Stoikisme kuno, ciri ciri yang tetap memiliki manfaat dahsyat untuk zaman modern. Yang pertama adalah kepercayaan tentang keteraturan sangat rasional dalam cara kerja jagat raya, yang mencerminkan suatu tata penyelenggaraan ramah yang menjamin segala sesuatu dalam hidup berjalan dengan benar. Para pemikir seperti Epictetus tidak hanya meresepkan “keyakinan” sebagai sebuah prinsip filsafat yang abstrak, mereka menawarkan strategi strategi konkret yang didasarkan pada disiplin intelektual dan spiritual. Kunci dalam bertahan terhadap kesusahan dan ketidaksesuaian yang datang secara paksa ke dalam kehidupan setiap orang adalah menumbuhkan sikap tertentu terhadap kemalangan berdasarkan pembedaan kritis antara hal hal yang dapat dikendalikan dan hal hal yang di luar pengelolaan kita. Investor yang salah arah sering kali tidak dapat memulihkan keuntungan mereka, tetapi mereka dapat bertahan terhadap kecenderungan menghukum diri sendiri. korban korban bencana alam, sakit parah atau kecelakaan mungkin tidak dapat pulih dan menjalani hidup seperti sedia kala, tetapi mereka pun dapat menyelamatkan diri dari kecenderungan menyiksa diri. Dengan kata lain, meskipun kita tidak dapat mengendalikan semua hasil yang kita cari dalam hidup ini, setidaknya kita dapat mengendalikan reaksi kita terhadap hasil hasil tadi. Di sinilah letak potensi kita untuk suatu kehidupan yang selain membahagiakan juga memuaskan
Sayangnya, tidak seorangpun dikaruniai dengan pasokan energy yang tanpa batas. Cemas terhadap hal hal yang di luar kemampuan pengendalian kita adalah sia sia dan merugikan diri sendiri. sikap itu menghabiskan energy kita, dan cenderung memperpanjang serta memperbesar kemalangan yang kita rasakan. Dengan memahami prinsip hidup yang sederhana ini, serta dengan memiliki kearifan, kemauan dan disiplin untuk focus pada hal hal yang dapat kita kendalikan sambil menjauh dari hal hal yang tidak dapat kita kendalikan merupakan langkah dasar untuk mengalokasikan energy kita secara efektif dan efesien, dan untuk hidup dalam keselarasan dan perdamaian dengan diri sendiri dan dengan lingkungan sekitar kita.
Dalam suatu masyarakat yang bebas, salah satu hal yang berada dalam kendali kita adalah jalur kehidupan sosial kita, pilihan antara hal hal yang akan kita kejar dan hal hal yang tidak akan kita kejar, karier, bisnis, pendidikan dan keluarga. Satu hal lain yang berada dalam kendali kita adalah pilihan tentang degnan siapa kita ingin bergaul, pasangan, teman, mitra bisnis, dan siapa yang akan kita pilih. Hal hal lain yang ada dalam kendali kita adalah tempat dimana kita ingin tinggal dan bekerja, hiburan yang ingin kita nikmati, pakaian yang ingin kita pakai, dan keinginan tentang apa yang ingin kita miliki
Satu hal yang tidak dalam kendali kita, tetapi dikendalikan oleh alam adalah penuaan, perpindahan dari babak babak kehidupan yang berbeda, perubahan penampilan fisik kita dan perubahan sikap mental kita. Ada orang yang lekas menjadi tua, ada sebagian yang lambat, tetapi usia kita semua jelas bertambah sejalan dengan waktu. Aturan ini tidak memiliki pengecualiaan, satu hal lain yang tidak dalam kendali kita adalah kematian, babak akhir keberadaan kita. Sebagian orang akan meninggal pada usia masih muda karena kecelakaan dan penyakit, sedangkan yang lain akan meninggal pada usia lebih lanjut karena sebab sebab yang alami, tetapi pada suatu hari, kita semua akan meninggal. Aturan ini juga tidak memiliki pengecualian, alam akhirnya akan mengambil kembali apa yang telah diberikan. Ini mengandung arti bawa kita sesungguhnya tidak kehilangan hidup kita, tetapi kita hanya mengembalikan kepada alam sesuatu yang pernah diberikan kepada kita. Hal ketiga yang tidak dalam pengendalian kita adalah perilaku orang orang di sekitar kita, perilaku pasangan kita, anak anak kita, teman teman kita, mitra kerja kita dan perilaku atasan kita. Hal keempat yang tidak dalam kendali kita adalah masa lampau, hal hal yang pernah terjadi, entah menyenangkan atau tidak menyenangkan, yang tidak dapat kita raih kembali atau kita ubah
Memahami hal hal yang mempengaruhi kehidupan kita, memisahkan hal hal yang dapat kita kendalikan dari hal hal yang tidak dapat kita kendalikan, memikirkan hanya hal hal yang dapat kita kendalikan, focus hanya pada masalah masalah yang dapat kita pecahkan, ini bukan perkara mudah. Upaya ini memerlukan kearifan, kemauan, tekad, dan disiplin. Upaya ini memerlukan kearifan untuk memahami batas batas yang dipaksakan oleh alam kepada kita, babak babak berbeda yang kita hadapi, dan kearifan untuk memahami bahwa kita tidak dapat mengubah orang serta lembaga yang tidak berada di bawah kendali kita. Upaya ini memerlukan kemauan dan tekad untuk menerima kemalangan kemalangan akibat hal hal yang tidak dapat kita kendalikan, hal hal yang menyenangkan dan tidak menyenangkan akibat penuaan kita, pikiran pikiran tidak menyenangkan tentang kematian kita sendiri atau kematian orang yang kita cintai, kerugian akibat perilaku orang lain, dan kesusahan akibat hal hal yang terjadi di masa lampau. Perlu disiplin untuk belajar mengalihkan energy dan upaya kita dari hal hal yang tidak dapat kita kendalikan ke hal hal yang dapat kita kendalikan, perlu disiplin agar pikiran kita tidak bergeser dan tergelincir ke akibat akibat tidak menyenangkan dari mengejar hal hal yang di luar kendali kita
Dalam kasus kasus tertentu, ada orang orang yang cukup beruntung karena memiliki kemampuan membedakan antara hal hal yang dapat mereka kendalikan dan hal hal yang tidak dapat mereka kendalikan, memisahkan kelompok dari yang lain dan focus hanya kepada hal hal yang dalam pengendalian mereka. Mereka dapat bangun pada pagi hari lalu mengajukan sebuah pertanyaan sederhana untuk setiap masalah yang dihadapi: apakah solusi masalah ini ada dalam genggaman saya?; kalau tidak, bagaimana dengan masalah berikutnya dan berikutnya lagi, sampai saya dapat memisahkan masalah masalah yang dapat saya pecahkan
Kita, sebagai contoh, dapat memandang diri sendiri pada cermin dan melihat rambut kita sudah semakin menipis atau beruban, kemudian mengajukan pertanyaan berikut: dapatkah saya berbuat sesuatu untuk mengatasinya?, barangkali transplantasi rambut atau pengecatan adalah solusi sementara untuk masalah ini, tetapi jelas bukan solusi permanen. Sementara itu, uban dan penipisan rambut merupakan bagian dalam proses penuaan, sesuatu yang berada dalam kendali alam, bukan dalam kendali kita, karena kita tidak pernah mencemaskannya. Coba lihat masalah berikutnya
Saya tidak bahagia dengan pekerjaan saya, dapatkah saya mengubahnya? Apakah ini berada dalam kendali saya?, kalau ya, saya akan menyusun langkah langkah yang harus diambil untuk mencari pekerjaan lain. Kalau tidak, kalau situasi saya yang sekarang tidak memungkinkan saya berganti pekerjaan, berarti memikirkannya bukan sesuatu yang berguna, kita beralih ke masalah berikutnya
Dalam beberapa kasus, orang tidak seberuntung itu. Kita percaya, atau ingin percaya, bahwa segala sesuatu berada dalam kendali kita, kita dapat mengubah mereka ke arah yang kita inginkan. Sebagian di antara kita percaya atau ingin percaya bahwa hidup akan berlangsung selama lamanya. Kita sibuk mengumpulkan kekayaan, tanah, uang, lukisan, hal hal dengan harga yang akan berkembang sejalan dengan waktu dan akan memberi kita kehidupan yang lebih baik di masa depan. Ada pula yang percaya bahwa penuaan dan kematian Cuma babak awal keberadaan kita, yang langsung dilanjutkan dengan kehidupan yang sebagaimana diajarkan oleh semua, akibatnya mereka mengabaikan pemenuhan kebutuhan kebutuhan yang membuat kita senang hari ini demi kesenangan kesenangan yang konon akan kita nikmati di masa mendatang
Barangkali kita percaya bahwa kita dapat mengubah perilaku pasangan kita atau anak anak kita. Kita mengharapkan dari mereka hal hal yang tidak dapat mereka berikan. Kemudian kita menuduh mereka, menyalahkan mereka atas hal hal yang tidak beres dalam kehidupan kita, mengajak mereka bertengkar, menghamburkan energy kita untuk hal hal yang tidak dapat kita kendalikan
Ada pula yang menumpahkan energy mental mereka pada masa lalu, pada hal hal yang telah terjadi dan kenikmatan atau kemalangan yang mereka hasilkan. Mereka mencoba kembali untuk menghapus pengalaman pengalaman negative atau menghidupkan kembali hal hal yang memberi pengaruh positif kepada mereka. Dengan cara ini, mereka diperbudak oleh hal hal yang tidak dapat mereka kendalikan dan mengabaikan hal hal yang tidak dapat mereka kendalikan dan mengabaikan hal hal yang justru dapat mereka kendalikan. Dalam masa hidup di masa lampau, mereka gagal hidup di masa sekarang, karena energy mereka tinggal sedikit atau sudah habis untuk meraih hal hal tersedia yang tidak mustahil membuat kehidupan mereka lebih baik
Pendek kata, tidak ada orang yang secara nyata mampu menyediakan obat mujarab untuk ketegangan dan trauma emosional yang dihadirkan dalam kehidupan kita tanpa dapat kita elakkan. Namun para penganut Stoikisme kuno telah menyediakan pendekatan yang rasional dalam menghadapi kemalangan kemalangan macam itu, mereka telah dengan sukses menunjukkan bahwa sampai tingkat yang sangat jelas, kita adalah sumber kesusahan kita, inilah filasafat Yunani kuno.
Dengan berkutat pada hal hal yang tidak dapat kita peroleh lagi, kita tidak hanya dipastikan akan kurang tidur, tetapi kita juga akan menguras begitu banyak energy berharga dan menjauh dari hal hal yang mampu kita atasi. Barangkali yang paling penting, kita mengusir kedamaian dan kesehatan spiritual yang merupakan salah satu rahmat besar dalam hidup kita, mereka yang menangisi susu tumpah ditakdirkan menjalani hidup yang sulit. Alternative rasionalnya adalah membebaskan diri dari hal hal yang tidak dapat kita pengaruhi dan hanya mengandalkan hal hal yang memungkinkan hidup bermanfaat. Mencemaskan hal hal yang ada dalam kendali kita menuntut kearifan, kemampuan untuk membedakan hal hal yang dapat dikendalikan dari hal hal yang tidak dapat dikendalikan, selain disiplin untuk belajar tentang bagaimana memindahkan focus kita dari hal hal yang tidak dapat dikendalikan ke hal hal yang dapat kita kendalikan



Renungkan:
Tumbuhkan sikap tertentu dalam menghadapi setiap masalah
Untuk setiap masalah yang kita hadapi, ajukan pertanyaan sederhana
Apakah masalah ini dalam kendali saya?
Kalau tidak, saya lupakan semua yang terkait dengan hal itu, dan pindah ke masalah berikutnya
Kalau ya, apa yang dapat saya perbuat untuk hal itu?
Apa pilihan yang tersedia untuk saya?

Berapa besar energy yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah tersebut?

Menghayati Hidup

Menghayati Hidup
Hidup yang tidak dihayati adalah hidup yang tidak berharga (Plato)
Ketika seorang laki laki berusia 103 tahun yang tinggal di pegunungan Messinia, tepat di ujung semenanjung Yunani, ditanyai tentang rahasianya, jawanya sederha saja: “Saya selalu menyibukkan diri. Saya sudah menjalani hidup saya. Rambut saya sudah menjadi putih, tangan dan kaki saya tidak sekuat dahulu lagi, tetapi saya masih mempunyai akal budi. Dan selama saya masih mempunyai akal budi, selama saya membuat pikiran saya tetap bekerja, roh saya, jiwa saya berada dalam kedamaian. Saya masih dapat menghayati dan mengalami dunia di sekitar saya dan ikut berperan serta di dalamnya, itulah yang membuat saya bahagia. Saya dapat berpikir di bawah pohon pinus tentang bagaimana cara membuat saya bahagia. Saya dapat berpikir di bawah pohon pinus tentang bagaimana cara membuat kerancang yang lebih baik. Sekarang perlu waktu lebih lama, jauh lebih lama daripada sebelumnya untuk membuat tiap keranjang itu. Namun itu bukan masalah. Saya tidak lagi membuat keranjang untuk nafkah. Saya membuat keranjang hanya karena keindahannya, hanya karena senang melihat mereka yang lebih muda menggunakannya untuk membuat anggur dari kebun. Saya masih dapat menghayati hidup di kedai kopi setempat, tempat saya berdebat, tentang masalah masalah dalam negeri dan luar negeri bersama sesama penduduk desa dan bertemu dengan orang orang yang baru datang ke daerah ini. Saya menghayati hidup di tempat ibadah di desa kami, tempat saya terus memperbaharui pertanyaan tentang keberadaan kami. Saya menghayati hidup di ladang, tempat saya masih menanam dan merawat pohon pohon zaitun, berkhayal tentang saat ketika generasi baru akan memanen mereka, dan memotong cabang cabangnya untuk dijadikan mahkota bagi pada juara olimpiade. Saya menghayati hidup di depan perapian saya…saya….lanjut laki laki renta itu, hari ketika saya berhenti menghayati hidup adalah hari ketika saya meninggal. Itu terjadi dua tahun kemudian, tepat tiga bulan setelah ia merayakan ulang tahunnya yang ke 105
Pesan laki laki tua tadi tentang kehidupan mengungkapkan dengan tegas dan jelas aturan pertama kehidupan spiritual yang menggunakan akal budi:
“Hayati hidup, jalani hidup dengan tujuan: carilah selalu kesenangan kesenangan baru yang baru positif dan takdir takdir baru positif yang dapat anda raih dengan pikiran anda”
Aturan ini bukan hal baru, aturan ini menggemakan pikiran filsuf filsuf Yunani Kuno terutama buah pikiran Plato yang dikumandangkan oleh pahlawannya, Socrates. Menjalani hidup kurang lebih berarti menghayati hidup menggunakan akal budi, karunia alam yang paling besar bagi manusia. Pentingnya akal budi dalam merasakan dan menghayati kehidupan terbukti dalam semua babak kehidupan, dari bayi yang selalu ingin mengeksplorasi sekelilingnya hingga kakek dan nenek yang masih secara aktif membaca dan membahas judul judul berita di surat kabar. Akal budi membuat setiap orang berperan serta dalam hidup. Menjadi manusia berarti berpikir, menghargai dan mengekslorasi dunia, mencari sumber sumber baru yang dapat memberikan kesenangan baik material maupun spiritual
Ada orang yang betul betul memahami makna penting akal budi dalam menghayati dan berpartisipasi dalam hidup. Mereka melahirkan gagasan gagasan baru, mendambakan hal hal dan hubungan hubungan baru, mereka terus menemukan minat minat baru, meloloskan diri dari rutin rutin yang membosankan. Mereka mengarungi hidup dengan semangat, meraih hidup secara agresif dan memeras seluruh gairah, kepuasan dan kegembiraan dari dalamnya. ada yang menemukana tantangan tantangan professional baru, membangun jembatan jembatan baru atau pencakar langit baru, mengembangkan obat baru, atau peranti komputer baru. Ada pula yang menemukan hobi hobi baru, mendaki gunung baru atau bereksplorasi ke dasar laut atau ke bagian rimba yang lebih dalam. Ada kelompok lain yang berusaha mengatasi masalah masalah kemanusiaan, orang sakit, orang miskin, mereka yang kurang beruntung, lalu menggalang dana, mengumpulkan bahan makanan, dan obat obatan untuk menyembuhkan dan mengurangi penderitaan mereka.
Hidup yang dihayati dengan baik melindungi orang dari kehidupan sebagai penonton. Hidup seperti itu menghadirkan peluang peluang yang datang bersamaan dengan terbitnya matahari dan itu berlaku bahkan bagi mereka yang sudah tidak muda lagi. Orang yang terus mengeksplorasi hidup mereka secara penuh, bahkan meskipun mereka sudah sangat maju, akan masih dapat menemukan bahwa sesuatu yang baru telah menyongsong mereka setiap hari tak peduli berapa pun umur mereka, sebuah objek wisata baru untuk dikunjungi, sebuah buku baru untuk dibaca, orang orang baru untuk dijadikan kenalan. Kunci dalam menyingkap potensi akal budi adalah sikap. Orang yang menghadapi hidup dengan rasa ingin tahu seorang anak biasanya paling siap untuk mengatasi keterbatasan waktu, lebih hidup, lebih aktif, dalam menjalani hidup pada usia 60 an atau bahkan 70 tahun lebih.
Itulah kasus yang dialami John, yang, setelah pensiun dari pekerjaan sebagai penjual dari pekerjaan sebagai penjual pada awal usia enam puluhan, atau bahkan tujuh pulahan dibanding para remaja.
Itulah kasus yang dialami oleh John, yang, setelah, pensiun dari pekerjaan sebagai penjual pada awal usia enam puluhan, mendapatkan jabatan di universitas sebagai pembimbing karier mahasiswa. tiba tiba, hidupnya mendapatkan tujuan dan makna baru. Setiap hari, ia tidak sabar untuk segera tiba di kantornya untuk membantu anak anak muda dengan karier mereka, lupa bahwa usia sudah lanjut atau bahwa kegiatan itu menghasilkan pendapatan tambahan. Cerita Nick lebih menarik, sesudah pensiun pada awal 60 dari pekerjaan dalam bidang perencanaan keuangan, ia membuka sebuah kedai the di sebuah lingkungan, dengan penghuni kebanyakan sesudah pensiun. Setiap hari ia berharap dapat bertemu dengan kenalan baru, minum teh bersama mereka, mendengarkan kisah kisah hidup mereka, menghibur mereka dan mendapatkan penghiburan dari mereka. “Pensiun tidak berarti harus berbaring di kursi malas atau di tempat tidur. Pensiun berarti bebas mengerjakan apapun yang anda kehendaki. Pensiun memungkinkan anda bekerja bukan untuk mencari upah, melainkan mencari kenikmatan dari sesuatu yang dapat anda raih”. James mengikuti sebuah jalur yang berbeda. Sesudah pensiun dalam usia sekitar 55 tahun dari pekerjaannya di sebuah bank, ia pindah ke California, tempat ia mengubah hobinya dalam perdagangan saham dan pengetahuannya tentang pasar uang menjadi sebuah karier baru. Ia menjadi perencana keuangan resmi dan berhasil menjaring banyak klien yang memerlukan pengetahuan serta pengalamannya untuk mengelola keuangan mereka. Kadang kadang, James, membantu klien kliennya tanpa imbalan. Kadang kadang, ia menarik imbalan kecil. Namun pekerjaan barunya berbeda sekali dari kariernya yang lama. Ia menemui klien kapan saja ia menghendaki, tanpa ada orang yang menjadi atasannya, tanpa ada orang yang memantau kariernya
Sayangnya, tidak semua orang memahami secara penuh signifikansi dan potensi akal budi yang mereka miliki. Ada yang gagal menumbuhkan dan menggunakannya sampai ke batasnya yang maksimal, dan karena itu gagal pula peran serta mereka dalam upaya pembangunan kemanusiaan
Hidup memiliki potensinya yang maksimal tetapi orang sering malas beralih dari rutinitas mereka meskipun terasa hambar, membiarkan diri puas dengan kegiatan kegiatan membosankan dan biasa yang telah mengantar mereka selama sekian tahun. Mereka melepaskan makna petualangan yang dahulu pernah mewarnai hidup mereka dan sebagai ganti menerima kompromi demi kompromi, tidak beranjak dari keterpinggiran, mengisolasi dan memisahkan diri dari teman teman dan kenalan. Itulah kasus yang dialami oleh Ted, yang setelah menerima paket pensiun dini, memilih mengakhiri karier 30 tahunnya sebagai ahli komputer, menjual rumahnya di New York, dan pindah ke sebuah panti jompo. Di sana ia menjalani kegiatan kegiatan rutin, seperti bermain golf dengan orang orang yang sama di tempat yang sama, makan di tempat tempat yang sama, menonton acara televise yang sama. Pelan pelan, ia kehilangan minatnya dalam apapun yang dapat mengangkatnya dari rutinitas tadi, apapun yang mengharuskannya berpikir untuk mencari petualangan petualangan baru, misalnya piknik atau terjun ke dunia politik
Sering sumber kekaburan ini adalah kearifan konvensional yang dibebankan kepada kita oleh masyarakat tempat kita tinggal. Budaya mempunyai kemampuan yang dahsyat untuk membentuk nilai nilai, keyakinan keyakinan, dan sudut pandang yang sering mencerminkan ketundukan kepada status quo, semua tadi tidak mendorong perubahan atau inovasi karena yang lebih penting adalah kepatuhan kepada cara cara atau aturan aturan tradisional
Dengan kata lain, masyarakat tempat kita tinggal umumnya mengimbau kita untuk menyokong pandangan yang diterima secara umum, menerima adat istiadat yang telah lazim dan konon telah teruji oleh waktu. Harga untuk sikap melawan arus dalam hal ini bisa tinggi sekali. Mereka yang berani menentang pandangan umum mungkin merasa berhianant, merasa bersalah, dan tidak mustahil, mereka dapat mengalami rasa terkucil yang tidak tanggung tanggung
Akhirnya, pemeriksaan silang yang kritis terhadap kehidupan yang dianjurkan oleh Socrates harus dipandang sebagai sebuah aksi keberanian. Di sini kita diminta menempuh jalur yang masih jarang dilewati dan karena itu sarat dengan ketidakpastian dan resiko. Bagaimanapun, bersamaan dengan itu, imbalan yang menyongsong mereka yang memiliki keberanian untuk menghayati hidup dengan sungguh sungguh memang besar karena bagi orang orang seperti itu, setiap hari selalu ada sebuah awal segar yang sarat dengan harapan dan peluang. Lebih dari semua itu, yang kemudian dipahami oleh orang orang ini adalah bahwa keyakinan tanpa akal budi dapat menjadi penjara. Mereka membatasi ruang gerak roh manusia yang pada gilirannya membatasi potensi kita untuk hidup. Hidup yang lebih kaya dan berwawasan lebih luas seperti yang diharapkan oleh kita semua hanya disediakan bagi mereka yang menghayati petunjuk Socrates, bahwa hidup yang tidak dihayati bukan hidup yang layak dijalani
Renungan:
Hadapi hidup dengan rasa ingin tahu yang positif
Jalani hidup dengan sepenuh hati tanpa prasangka
Ketika pikiran sudah sibuk, jiwa akan terasa paling hidup
Raih kehidupan secara agresif dan peras setiap kegairahan, kepuasan positif dan kesenangan kesenangan baru yang membangun karakter
Sesuatu yang baru senantiasa menyongsong anda: sebuah tempat yang belum pernah anda kunjungi, sebuah buku yang belum and abaca, seorang teman yang belum pernah anda dengar, makanan yang belum pernah anda cicipi…carilah pengalaman positif agar menambah wawasan…


Bagaimana Pornografi Bekerja

Bagaimana Pornografi Bekerja
Pornografi sangat sulit untuk ditulis karena beberapa alasan. Pertama, sebagai seorang Kristiani, bahkan membicarakannya saja bagaikan masuk ke dalam mulut singa. Saya menerima berbagai macam tatapan dan komentar aneh, setiap kali memberitahukan kepada orang lain bahwa saya sedang menulis tentang pornografi. “Oh, saya paham…anda sedang melakukan penelitian. Jadi, apakah anda melihatnya?”, tanya mereka. Saya menemukan bahwa sikap sebagian orang yang sangat menyukai pornografi suka mengganggu dan membuat saya sedih. Sebagai seorang beriman, saya percaya bahwa pornografi adalah medium untuk merendahkan pria dan wanita selain juga menawarkan kebohongan untuk mendapatkan pemuasan seksual, terutama kepada para pria. Pornografi merupakan industri yang telah membanjiri kebudayaan kita dan telah merambah ke seluruh dunia. Pada saat yang sama, pornografi menjadi promosi bagi aktivitas seksual dengan banyak pasangan dan menjadi produk untuk dikonsumsi (Jensen,et,al, 1998, Jensen, 2007).
Pornografi tidak menghormati gambar Allah di dalam diri seseorang dengan memperlakukan dirinya, baik pria maupun wanita, sebagai objek seksual untuk dikonsumsi baik secara langsung maupun tak langsung. Mengambil dari istilah Yunani Porne dan graphein, pornografi secara literal adalah tulisan mengenai pelacur pelacur (Paul, 2005). Industri pornografi saat ini telah menjadi modal pendorong terhadap komersialisasi seksualitas manusia sebagai sebuah komoditas, persis sama dengan apa yang dilakukan oleh prostitusi.
Pornografi mencabut seksualitas manusia dari konteks alaminya, yaitu keintiman antara dua insan manusia dan menjadiannya sebuah produk untuk dijual dan dibeli. Dengan merendahkan nilai tubuh manusia dan memperlakukannya sama seperti ketia kita berbelanja di pasar swalayan, pornografi mempromosikan seksualitas seorang manusia sebagfai produk untuk dikonsumsi. Produknya adalah seksualitas orang lain, dipandang melalui kebutuhan kebutuhan kita yang sepihak dan egois. Video, majalah, atau situs mana yang paling dapat memuaskan saya?, pornografi yang dipilih itu mungkin dikonsumsi sekali, pada waktu waktu tertentu saja, atau secara teratur dan bahkan terus menerus seperti sebotol kecap yang tidak pernah habis. Ketika hal tersebut tidak lagi memenuhi kebutuhan seksual ataupun fantasi saya, maka dapat saya buang. Tidak perlu mendaur ulang. Hukum penawaran dan permintaan memastian bahwa akan selalu ada video, atau situs lainnya.
Sama seperti sebuah makanan yang dikonsumsi dan dicerna oleh tubuh dan dicerna oleh tubuh, pornografi dikonsumsi oleh indra dan dicerna oleh otak. Dalam proses perncernaan tersebut, makanan diurai sehingga ia dapat memasok energy ke seluruh tubuh. Produk produk sampah akan dikeluarkan dan dibuang untuk memastikan kesehatan organisme. Demikian juga, pornografi akan dibawa ke dalam otak melalui indra kita, terutama melalui penglihatan dan sentuhan. Namun bedanya, yang terbentuk. Pornografi dan respons kita terhadapnya akan mengubah otak kita dengan satu dan lain cara, sehingga sulit bagi kita untuk mengembalikannya seperti semula. Pornografi adalah racun seksual yang dikonsumsi hingga akhirnya menjadi bagian dari struktur pikiran.



Pornografi dan elemen dasar budaya
Tidaklah mengejutkan bagi siapapun bahwa pornografi adalah bisnis besar. Perkiraan besarnya industri seks di seluruh dunia adalah sekitar $57 juta, dengan $12 juta (lebih dari 20 persen) datang dari Negara tertentu. Sementara video porno merupakan contributor terbesar dalam industri pornografi, jaringannya ada dalam berbagai media: majalah, escort services, strip club, telepon seks, program tayangan pay per view, dan situs situs bermateri lainnya. Sebagian besar dari industri ini bersifat visual.
Meskipin ada perdebatan mengenai seberapa besar sebenarnya industri hiburan dewasa ini dan seberapa besar uang yang dihasilkan, dapat dipastikan bahwa ketersediaan pornografi untuk dikonsumsi telah bertambah secara dramatis dalam kurun waktu 25 tahun terakhir. Dengan munculnya perangkat video pribadi di tahun 1980 dan internet pada tahun 1990 an, budaya kita telah dibanjiri dengan materi seksual secara eksplisit yang begitu menggoda. Hal hal berbau porno telah beranjak dari stan stan pojokan yang menjual majalah dan toko toko video ke wilayah pribadi di rumah, kantor, dan kamar asrama kita. Akibatnya, pornografi telah merambat ke dalam berbagai wilayah kehidupan pribadi. Karena perkembangannya yang sangat dahsyat, pornografi yang dulunya dianggap tabu, kini telah berkurang atau bahkan hilang sama sekali. Pornografi saat ini telah menjadi bagian hidup yang diterima di banyak lingkungan masyarakat.
Saya belum lama ini mendengarkan talk show di radia olahraga. Penyiar radio tersebut tiba tiba berpindah topic dari pembicaraan mengenai tim olahraga Chicago kepada undangan bagi para penelpon untuk melakukan voting. Mereka diminta untuk memberikan pilihan mereka mengenai penampilan bintang porno mana yang paling heboh. Para penyiar bertugas pada saat itu menyebutkan beberapa nama bintang porno yang ada tanpa keraguan sedikitpun. Hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja untuk membuat saluran telepon mereka macet akibat banyaknya penelpon yang ingin melakukan voting. Segmen tersebut selanjutnya diikuti oleh salah satu iklan rutin mereka, sebuah klub …, pesannya jelas, seks bukan saja laku diperdagangkan, namun merupakan motivasi untuk hidup.
Film American Pie memiliki cukup banyak adegan ber orientasi seksual. Hal tersebut sangat menggambarkan situasi budaya kita saat ini. Dalam sebuah bagian, sang pemeran utama begitu tidak tahan ingin melihat sebuah film porno dimana ia berusaha keras untuk membenahi gambarnya yang terlihat kacau balau akibat alat pengacak gambar yang dipasang. Orang tuanya menangkap sedang bermasturbasi dengan gambar tersebut, dan mulailah humor standar anak muda terjadi. Dalam adegan lainnya sang ayah yang agak aneh itu memberikan majalah porno kepada anak lakinya sebagai materi ritual keagamaan yang perlu dibacanya. Sang pria muda ini juga menayangkan di web godaannya terhadap mahasiswi asing, dengan hasil yang kacau balau.
Saya sadar bahwa American Pie hanyalah sebuah film, ia bukanlah film sejarah dan sang sutradara mungkin akan mengatakan bahwa film ini tidaklah menggambarkan serta mengisahkan kejadian nyata manapun. Namun American Pie berhasil menarik dan merangkul para pria muda ketika ia berhasil meraup sekitar lebih dari $235 juta di box office. Banyak pria muda dapat secara mudah mengaitkan dirinya dan nyambung dengan hal hal yang digambarkan dalam film tersebut. rasa ingin tahu, kekuatan magnetic, bentuk tubuh wanita, sensai perkenalan pertama dengan pornografi, dan penggunaan internet sebagai alat untuk kepuasan seksual yang dinikmati melalui tempat tersembunyi.
Sebaliknya, coba lihat proses setelah peristiwa Janet Jackson mempertontonkan buah dadanya dalam the Super Bowl XXXVIII pada pertunjukan tengah pertandingan di Februari 2004. 9/16 detik tayangan buah dadanya di televise membuat ribuan surat kemarahan di layangkan kepada the federal communications commissions. Peristiwa tersebut kemudian mengakibatkan dikeluarkannya sanksi denda kepada CBS, permintaan maaf Janet Jackson, dan merupakan salah satu tayangan yang paling sering diulang, yang pernah ada saat itu. Ironinya adalah Janet Jackson berpakaian utuh pada sebagian besar waktu ditayangkan dan para penonton telah ter ekspos kepada para pemandu sorak yang meliuk liuk dengan celana pendek ketatnya. Saya bertanya tanya dalam benak saya sendiri, mana yang lebih buruk: sebuah tayangan yang tidak disengaja sekilas dari buah dada yang terbuka polos atau sorotan yang menggoda untuk secepatnya menuju ke iklan yang mempertontonkan belahan dada para penggembira NFL (Liga nasional American football)
Apa yang membuat protes dan permohonan maaf tadi lebih sia sia lagi adalah fakta kurangnya protes terhadap foto foto hampir bugil Janet Jackson dan banyak artis wanita lainnya yang terpampang pada sampul musi, majalah artis, serta majalah majalah pria dalam beberapa tahun belakangan ini. Gambar gambar yang mengundang itu ada dimana mana, dan cenderung diabaikan. Gambar gambar ini telah secara luas menyusup ke dalam struktur budaya kita, karena itu kita menjadi luntur dan kebal terhadapnya.
Pengaruh dari pornografi ini dapat kita temukan juga dalam program program televise. Episode Friends menggambarkan secara detail kecanduan dan dampak terhadap pikiran akibat akses bebas akan pornografi yang dialami Chandler dan Joey. Mereka menolak siapa pun yang ingin mematikan telivisi, dan mereka tidak akan membiarkan akses mereka dirampas. Dialog tersebut menunjukkan dampak pornografi terhadap persepsi mereka berdua mengenai wanita:
Chandler: sewaktu aku di bank, di sana ada seorang teller yang seksi dan ia tidak memintaku “melakukan itu” dengannya di tempat tersembunyi!
Joey: sama, aku juga!, cewek pengantar pizza itu datang, ia hanya memberiku pizzanya, ambil uangnya, lalu pergi!
Chandler: Apa? Apertemen yang bagus, aku jamin kamar kamarnya, mantap bukan?
Joey: tidak!, tidak terjadi apa apa sama sekali!
Chandler, aku rasa kita harus hentikan pikiran porno ini, deh
Chandler dan joey keduanya mulai percaya bahwa semua wanita dalam kehidupan nyata adalah sama seperti yang ada dalam film porno. Melihat pornografi mengubah ekspektasi dan interaksi mereka dengan wanita. Walaupun, episode yang ada hanyalah fiksi belaka, dampak dari pornografi terhadap kehidupan pria sangatlah mirip.
Baik klub penari telanjang ataupun pekerja seks, pornografi internet, ataupun telepon seks, industri seks memangsa 2 golongan: para konsumen (pembeli) dan yang dikonsumsi (mereka yang terlibat dalam industri ini). Siapa saja yang menjelajah situs porno, menyewa film atau membeli majalah akan menambah permintaan pornografi. Setiap kunjungan situs digunakan untuk mendatangkan lebih banyak uang dari iklan yang dipasang di dalamnya dan memperkaya isi situs tersebut. setiap video yang disewa menambah permintaan untuk produksi produksi selanjutnya. Para konsumen pornografi mungkin tidak melakukan sesuatu yang melanggar hukum, namun mereka membuat tungku pembakaran it uterus menyala, yaitu industri seks. Sedihnya, hal tersebut didorong oleh jiwa jiwa manusia yang terlibat di dalam pembuatannya (Leahy, 2008)
Mengevaluasi Pornografi
Ada beberapa cara, dimana pornografi dapat dievaluasi. Sebagian mengambil cara yang bersifat anekdot, membicarakannya berdasarkan perspektif pribadi mereka, apa yang telah mereka lihat, apa yang mereka pikirkan tentangnya, dan bagaimana pornografi telah berdampak pada diri mereka, Yang lainnya menempatkan diskusi pornografi dalam konteks masyarakat, isu mengenai kebebasan berbicara, perkara penyensoran, regulasi politik, kekerasan terhadap wanita, dan lain lain. Pornografi dianggap sebagai sebuah bentuk seni atau sebagai salah satu cara mengeksperesikan seksualitas di media. institusi agama banyak berbicara mengenai moralitas dari pornografi. Banyak kelompok Gereja telah meresponsnya secara sosial (seperti melakukuan protes) dan secara teologis (mimbar).
Ketika anda mencoba menggali ke dalam tambang riset pornografi, beberapa hal akan segera terlihat jelas. Pertama adalah ada banyak literature mengenai topic tersebut dari banyak sekali disiplin ilmu, termasuk sosiologi, filsafat, teologi, psikologi, dan bisnis. Hanya sedikit orang yang memiliki waktu atau keahlian menjadi ahli di dalam bidang tersebut. Manusia adalah makhluk ciptaan yang luar biasa kompleks dan indah dan seksualitas kita merupakan salah satu aspek yang lebih kompleks dari siapa kita, bukan sesuatu yang lebih sederhana. Namun, kita bukan sekedar makhluk seksual, binatang yang bereproduksi.



Tiga jenis penghindaran
Ketika saya berkubang dengan tumpukan buku dan artikel jurnal yang ada, saya menemukan sejumlah sarjana dan praktisi klinis yang telah menguji pornografi dan bagaimana pornografi telah menyusup masuk ke dalam budaya kita. Jensen, Dines dan Russo (Jensen et al, 1998) menjelaskan tiga jenis penghindaran sebagai cara cara yang banyak digunakan dalam debat pornografi untuk mengaburkan apa pornografi sebenarnya. Penghindaran yang dilakukan membuat bingung isu yang ada dengan “menghindar” dan mengesampingkan kritik apapun terhadap industri maupun sarana pornografi.

Penghindaran definisi
Apa itu pornografi? Bagaimana anda mendefinisikan terminology legal pornografi?, siapa yang memutuskan mana yang termasuk pornografi dan yang tidak? Penghindaran pertama adalah mengenai semantic. Inti dari penghindaran definisi adalah pembelokkan dari usaha pendefinisian secara jelas, terminology yang tidak berbelit belit akan apa yang dikategorikan bersifat porno. Penghindaran ini menjadi sebuah alat dimana banyak orang mengabaikan topic ini. Jika anda tidak dapat mendefinisikannya secara jelas, mengapa susah susah berurusan dengannya? Penghindaran definisi menjadi sebuah pelindung bagi mereka yang berpihak pada akses bebas pornografi bersembunyi di baliknya dengan berfokus secara sempit terhadap bagaimana mendeskripsikan pornografi. “Apa yang menurut anda pornografi, bagi saya adalah seni,” klaim mereka. Pornogragi itu tergantung kepada siapa yang melihatnya.
Banyak yang berargumentasi bahwa pornografi terdefinisi secara budaya dan budaya itu berubah. Cara berpikir seperti itu berakar dalam relativisme etis dimana sebagian besar mahasiswa tingkat dua secara intelektual dapat mengalahkannya jika mereka mau, namun relativisme ini begitu menggiurkan. Ia menjadi tongkat penyangga yang praktis kapanpun kita dikonfrontir dengan dilemma yang membuat kita tidak nyaman. Pertanyaan mengenai definisi adalah hal yang sah sah saja, namun penghindaran ini bersandar pada relativisme moral dan linguistic yang mengacaukan dialog apapun mengenai topic ini.
Ketika definisi apapun dimunculkan, percakapannya diarahkan untuk menemukan celah pada definisi tersebut. apakah pornografi adalah gambaran dari sebuah tubuh yang telanjang?, jika itu definisinya, kita harus mengkategorikan ribuan karya apa yang sebenarnya seni sebagai pornografi. Apakah ada tingkatan pornografi? Bagaimana anda menarik garisnya?, dan jika anda menarik garisnya, apakah ini akan menjadi kemiringan yang licin?, alih alih setuju dengan definisi yang pas, tujuan dari penghindaran definisi adalah untuk menbangun penghalang sehingga efek efek yang nyata dari pornografi tidak pernah dibahas.
Pada tahun 1964, sebuah kasus tanah yang dimenangkan oleh mahkamah konstitusi Amerika serikat menawarkan salah satu contoh yang paling membekas (dan sering ditertawakan) dari praktik penghindaran definisi. Seorang manajer bioskop di Ohio, Nico Jacobellis, melakukan banding terhadap putusan mahkamah konstitusi Negara bagian itu untuk memperjuangkan pendiriannya, ia didenda karena menayangkan sebuah film Prancis, The Lovers. Adegan yang dipertanyakan adalah sebuah adegan cinta yang kontroversial pada waktu itu. Akan terlihat biasa biasa saja dengan standar sekarang dan mungkin hanya akan dianggap sebagai hal biasa bagi banyak program televise. Dalam Jocabellis Vs Ohio, Hakim mahkamah konstitusi Potter Stewart kesulitan menyampaikan definisi dari “hardcore pornografi” dalam konteks sebuah definisi legal pelanggaran norma sosial. Komentarnya terkesan tidak populer: “Saat ini saya tidak akan melakukan usaha lebih jauh untuk mendefinisikan materi semacam ini, yang saya tahu akan termasuk dalam cakupan definisi singkat hardrock pornography, dan mungkin saya tidak akan pernah berhasil melakukannya. Namun saya tahu ketika saya melihatnya dan film yang ada di dalam kasus ini bukanlah itu” (Jacobellis Vs Ohio, 1964).
 Kalimat “Saya tahu ketika saya melihatnya” telah menjadi frase cemoohan bagi para pendukung pornografi ketika berhadapan dengan pornografi. Dalam budaya yang telah bergeser kepada relativisme moral, siapa yang menentukan bahwa sesuatu itu bersifat porno? Dengan standar ini, pornografi ditawarkan sebagai sebuah karya seni. Komentar Hakim Stewart digaungkan kembali dalam alegori C.S. Lewis, The Pligrim’s regress (Lewis, 1981). Sang pratagonis, John, terpenjara oleh si semangat zaman. John diberi minum susu dan setelah ia menikmati rasa susu yang nikmat itu, petugas penjara yang membawakan susu tersebut memarahinya. Susu, katanya tidak berbeda dengan benda lainnya yang keluar dari lubang sapi manapun, seperti kotoran, urin, muntahan atau keringat. John menghela nafas dan menyebut petugas penjara itu sebagai “seorang pembual atau hanya seorang yang bodoh, ketika anda tidak melihat adanya perbedaan antara apa yang alam keluarkan sebagai kotoran dan yang ia kumpulkan sebagai makanan”.
Bagi pikiran dan hati nurani yang jernih, perbedaan antara pornografi dan seni sangat mudah dibedakan meskipun sulit untuk didefinisikan. Ada perbedaan yang jelas antara telanjang secara artistic dengan eksploitasi dari seksualitas dan bentuk tubuh manusia. Mereka yang ingin menghargai bentuk ekspresi artistic dapat menanyakan serangkaian pertanyaan untuk membedakan pornografi dari seni yang sesungguhnya.
1. Bagaimana wanita atau pria itu dipandang?, apakah mereka dipandang sebagai manusia atau objek pelampiasan nafsu?
2. Bagaimana keintiman seksual itu digambarkan?, apakah di dalam sebuah hubungan pernikahan atau dalam isolasi?
3. Apakah sasaran yang dibidik oleh produser dari gambar itu atau media?
4. Sebagai gantinya, motivasi apa yang anda miliki sebagai orang yang melihat gambar itu?
5. Seberapa vulgar gambar itu?, seberapa banyak yang disisakan bagi imajinasi?
Pornografi secara naturnya merendahkan dan dehumanisasi. Seni merayakan arti dan nilai dari keintiman seksual antara dua individu. Dalam pertukaran antara seniman dan orang yang melihat lewat medium artistic yang ada, sangatlah penting untuk mempertimbangkan motif dari sang seniman atau produser dan natur dari gambar yang ada. Sang seniman ingin mengkomunikasikan sebuah pesan atau membangkitkan emosi dari mereka yang melihatnya. Seniman berbakat dengan motivasi murni dapat menciptakan karya karya seni yang membangkitkan emosi secara luar biasa atau membuat pernyataan yang dalam. Namun terlepas dari motivasi dan ketrampilan seseorang, sang seniman memiliki keterbatasan untuk mengendalikan motif dari orang orang yang melihatnya.
Dalam pertukaran yang paling sederhana, tujuan tujuan dari sang seniman itu tercapai ketika mereka yang melihatnya secara umum menerima karyanya dan merespons sebagaimana yang dikehendaki oleh sang seniman, namun hal ini tidak selalu terjadi. Sepandai pandainya seorang seniman, ia hanya dapat menciptakan sebuah karya yang berfokus pada orang yang digambarnya. Sebuah karya seni klasik telanjang dapat menjadi sebuah karya pornografi bagi pikiran yang terdistorsi. Benarlah bahwa pikiran yang terdistorsi dapat membuat segalanya menjadi ngeres. Jika hati, pikiran dan motivasi dari mereka yang melihat begitu egosi dan ngeres, bahkan maha karya sehebat apa pun dapat mendorong seseorang lebih dalam lagi kepada kerusakan. Coba lihat Kidung Agung, ini merupakan sebuah contoh karya literature erotis dengan nilai spiritual yang tinggi, namun bagi pikiran yang terdistorsi dapat menjadi penghantar kepada fantasi seksual dan penyimpangan secara mental.
Pornografi adalah sebuah medium dimana maksud sang seniman dan respons dari mereka yang melihat sama pentingnya seperti isi dari medium yang ada. Sang artis dapat saja bermaksud bahwa sebuah foto itu sebagai seni untuk mengagumi keindahan, contoh wajah yang cantik, dan foto yang ada mungkin tidak lebih dari sebuah wajah wanita yang dilukiskan dalam cat minyak. Namun jika gambar tersebut dilihat oleh seseorang yang rusak secara mental demi tujuannya sendiri, mementingkan dirinya di atas segalanya, ini dapat menjadi sesuatu yang porno

Mendefinisikan Pornografi
Pornografi diambil dari kata Yunani, Porne, yang dapat diterjemahkan sebagai “wanita terpenjara” atau “pekerja seks”. Porneia seringkali diterjemahkan sebagai “percabulan”, “pelacuran” atau “imoralitas seksual”. Dalam Perjanjian Baru ada 26 referensi terhadap kata porneia. Dari ke 26 referensi ini, enam ada di dalam surat Paulus kepada jemaat di Korintus. Konteks dari surat surat ini agar orang percaya tidak menjadi serupa dengan norma budaya yang bertentangan dengan Gereja. Tetapi tubuh bukanlah untuk percabulan (1 Korintus 6:13), kita harus menjauhkan diri darinya (1 Korintus 6:18), tidak mengejarnya (1 Korintus 7:2), dan kita harus bertobat jika kita jatuh di dalamnya (2 Korintus 12:21) (Browring, 2005, halmn 30).
Selain porneia, rasul Paulus menawarkan alternative: kesucian. Bagi orang Kristen, kesucian tidak terbatas pada tingkah laku seksual namun merupakan hasil dari proses pengudusan. Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Paulus memerintahkan, “Jadi akhirnya, saudara saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” (Filipi 4:8). Kesucian lebih merupakan masalah pikiran ketimbang masalah fisik dan sangatlah penting untuk tidak memisahkan keduanya. Pikiran yang kita pikirkan mempengaruhi tubuh kita. Tingkah laku kita mempengaruhi pikiran kita. Interaksi antara pikiran dan tubuh berakar pada neurobiology otak. Pikiran dan tingkah laku terajut dan menyatu satu dengan lainnya. Inilah bagaimana pornografi dan seksualitas yang tidak sehat sekaligus mengotori otak dan tubuh bersamaan.
Jadi apa itu pornografi? Lepas dari kesulitan dalam memberikan definisi yang dapat diterima oleh semua orang, karena penghindaran definisi, inilah beberapa di antaranya:
1. Penggambaran tingkah laku erotis (seperti dalam gambar maupun tulisan) yang dimaksudkan untuk menyebabkan nafsu seksual (Merriam-Webster Distionary)
2. Pornografi adalah materi yang dijual di toko toko pornografi untuk tujuan menciptakan rangsangan seksual bagi banyak konsumen pria (Jensen et al, 1998)
3. Gambar, tulisan, atau materi seksual yang tujuan utamanya adalah untuk membangkitkan ransangan seksual (American Heritage Dictionary)
4. Tulisan, gambar, foto, atau sejenisnya yang tidak senonoh khususnya yang tidak memiliki kontribusi artistic (dictionary.com)
Katekismus Gereja Katolik membahas mengenai pornografi:
“2354 Pornografi, termasuk menghilangkan kelakuan nyata atau simulasi dari keintiman di antara pasangan, untuk menunjukkannya secara sengaja kepada pihak ketiga. Hal tersebut melanggar kemurnian seksual karena mencederai tingkah laku pernikahan, pemberian keintiman yang bersifat timbal balik di antara pasangan. Ia sangat mencederai harga diri dari para pelakunya (actor, vendor, public), karena masing masing menjadi objek dari kesenangan dasar dan keuntungan bagi lainnya. Ia membuat semua yang terlibat di dalamnya berada dalam ilusi dunia fantasi. Ia merupakan pelanggaran berat. Otoritas sipil harus mencegah produksi dan distribusi materi pornografi”
Bagi saya, saya lebih menyukai definisi yang dijabarkan dalam katekismus di atas. Pilihan anda mungkin berbeda, namun sekali lagi, perlu disadari bahwa hal ini merupakan inti dari penghindaran definisi

Penghindaran Konstitusional
Dengan penghindaran konstitusional, para pembela pornografi ber argumentasi bahwa Amandemen pertama konsitusi Amerika Serikat melindungi kebebasan untuk membuat, memasarkan, dan mendistribusikan pornografi di dalam konteks kebebasan berbicara dan pers. Hal tersebut menyentuh sisi indenpenden dan otonomi kita. Jeritan untuk “penyensoran” terhadap para individualis di dalam diri kita dan implikasinya bahwa kita tidak mampu untuk bertindak secara bertanggung jawab menurunkan harga diri kita. Siapa pembuat hukum yang mengatakan apa yang diijinkan untuk dilihat oleh para pria dan wanita yang dewasa?, mengapa saya harus mempercayai mereka?, mengapa saya memerlukan hukum untuk memberitahu saya apa yang dapat dan tidak boleh saya lihat?
Penghindaran ini merupakan pendekatan lainnya yang digunakan untuk membungkam mereka yang mau berbicara menentang industri pornografi. Penghindaran konstitusional berpendapat bahwa mereka yang terlibat dalam pembuatan pornografi tidak memproduksi materi yang berbahaya, karena mereka yang mengkonsumsinya adalah orang orang dewasa yang cukup umur. Mereka hanya semata mata memenuhi permintaan pasar untuk materi seksual eksplisit. Semuanya senang, lalu mengapa pembuat undang undang perlu melawan hal tersebut?
Ada beberapa masalah yang jelas dan nyata dalam cara penghindaran ini. Beberapa bentuk pornografi telah dilegalisasikan untuk ditentang, contoh yang terbaik adalah pornografi anak anak. Kita memang melegislasikan bentuk apa dari pornogragi yang dapat diproduksi dan dikonsumsi. Segala kemunduran terhadap posisi legal yang menolak dampak di dunia nyata dari pornografi terhadap orang orang, dampak pornografi secara emosional, sosial, dan psikologis, produser, pelaku dan konsumen baik tua maupun muda, tidak lain adalah tidak bertanggung jawab. Dengan menggarisbawahi kesulitan untuk pengesahan dan pemberlakuan batas batas legislasi yang masuk akal terhadap materi pornografi. Penghindaran konstitusional mencegah diskusi sosial yang berguna dan salah melihat realitas bahwa pornografi mencederai para pelakunya

Penghindaran Penyebab
Akhirnya, bagi kita yang berada dalam komunitas penelitian, kita masuk ke dalam kesulitan apa yang disebut sebagai penghindaran penyebab teknik dari penghindaran tersebut adalah untuk menggarisbawahi keterbatasan dari penelitian yang melibatkan pornografi. Saat ini kita hidup di dalam masyarakat yang menyukai pertanyaan pertanyaannya dijawab oleh para pakal ilmiah. Namun demikian, penggunaan teknik metode ilmiah menjadi bermasalah ketika membuat pernyataan pernyataan etis maupun legal mengenai apa yang harus dilakukan terhadap hasil hasil studi ini. Teori teori ilmiah untuk mencari koneksi antar variable, bukan untuk menentukan status moralnya. Penghindaran penyebab menggarisbawahi hal tersebut.
Dalam sebagian besar ilmu perilaku dan sosial, ada 3 pendekatan besar untuk mempelajari sebuah fenomena yang terjadi. Pertama, adalah pendekatan deskriptif. Dengan pendekatan deskriptif, para ilmuwan berusaha untuk mengamati secara objektif dan menjelaskan apa yang terjadi di dunia. Pendekatan ini menggunakan studi kasus, survey, dan observasi naturalistic (hanya mengamati orang). Dengan pendekatan ini, sebuah fenomena dideskripsikan secara sistematis. Pendekatan kedua dikenal sebagai rancangan korelasional. Dalam studi koresional, para ilmuwan berusaha untuk mengukur secara matematis apakah kehadiran atau absennya sebuah variable dapat memprediksi secara reliable kehadiran atau absennya variable lainnya. Sebagai contoh: (1) apakah nilai ujian masuk perguruan tinggi dapat memprediksi secara ajeg indeks prestasi kumulatif perguruan tinggi; (2) apakah dengan mengetahui status pernikahan seseorang dapat memberikan gambaran mengenai penghasilannya?. Dalam sebuah rancangan korelasional hubungan antara dua hal sedang dibangun. Satu keterbatasan dari rancangan ini adalah arah dari hubungan yang ada tidak diterapkan.
1. Apakah nilai ujian masuk dapat memprediksi indeks prestasi kumulatif perguruan tinggi? Kelihatannya ada satu varibel penentu lain seperti kepandaian atau kemampuan intelegensia yang menyebabkan nilai ujian masuk maupun IPK yang tinggi. Kedua tes tersebut hanya mengukur variable penyebab dan variable ini mungkin berubah seiring berjalannya waktu, kepandaian bertambah dengan pendidikan, misalnya
2. Apakah status pernikahan memberikan gambaran mengenai penghasilan seseorang?, jika kita menemukan bahwa pria yang telah menikah menghasilkan lebih banyak daripada pria yang belum menikah, apakah berarti bahwa menikah membuat anda menjadi orang yang lebih stabil dan oleh karenanya meningkatkan kinerja anda (menghasilkan promosi di pekerjaan) atau bahwa pria yang lebih baik secara finansial menarik wanita yang ingin menikahinya?
Hal tersebut menjadi teka teki: “Ayam dulu atau telur dulu?”, karena keterbatasan bagaimana penelitian korelasi ini dilakukan, anda tidak dapat membuat pernyataan pernyataan mengenai sebab akibat (A menyebabkan B) dari variable yang diukur. Jenis pernyataan mengenai penyebab hanya terbatas pada pendekatan eksperimental. Oleh karenanya, penghindaran penyebab berfokus secara sempit kepada keterbatasan dari penelitian korelasional dalam membangun hubungan sebab akibat, menepis kritik bahwa pornografi dapat memiliki dampak yang berbahaya.
Kehebatan dari rancangan eksperimental adalah manipulasi varibel (variable penyebab atau independen). Memanipulasi variable indenpenden dan memegang variable lainnya secara konstan mungkinn mengijinkan peneliti untuk merumuskan bahwa perubahan apapun yang terjadi pada variable dependen disebabkan oleh perbedaan pada variable indenpenden. Dengan cara ini, arah dari hubungan yang sada dapat dibangun (satu variable diubah dan perubahan lainnya terjadi mengikutinya) dan mayoritas dari penjelasan yang berubah ubah dapat diminimalisir. Pendekatan eksperimen memberikan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi dalam mengatakan bahwa mengubah satu variable menyebabkan perubahan para variable variable lainnya.
Masalah yang ada pada sebagian besar riset ilmu perilaku dan sosial adalah pendekatan eksperimental sering kali tidak etis. Untuk menjalankan eksperimen yang matang terhadap perkembangan dampak pornografi terhadap anak anak akan memerlukan pengambilan data dari para individu, sebut saja mereka semua kembar secara genetis untuk meminimalisir dampak genetic, membesarkan mereka di bawah kondisi asuhan yang sama, meminimalisir pengaruh mereka terhadap dunia luar sehingga sejarah hidup mereka semirip mungkin, dan kemudian secara acak membaginya ke dalam satu atau dua kelompok. Satu kelompok akan diperhadapkan terus dengan pornografi dan kelompok lainnya dilarang untuk melihat pornografi (variable independen). Setelah setahun kita akan mengirim mereka ke dunia nyata dan melihat apakah ada perbedaan di dalam beberapa tingkah laku  mereka (variable dependen), ini termasuk melibatkan perilaku mencari hal berbau pornografi, sikap terhadap wanita, tingkah laku kekerasan seksual, isu kesehatan mental atau apapun lainnya yang mungkin dipengaruhi oleh pornografi. Hanya dengan kondisi semacam ini sajalah anda dapat mengatakan bahwa pornografi itu akan menyebabkan hal lainnya
Saya harap kemustahilannya terlihat jelas. Jika seluruh data yang ada berkenaan dengan pornografi saat ini adalah korelasional dan bukan kausal, taka da yang dapat disimpulkan secara jelas mengenai dampaknya, apakah negative atau positif. Ini adalah inti dari penghindaran penyebab. Industri tembakau berhasil bersembunyi di balik cara penghindaran ini lebih dari 50 tahun. Merokok tidak menyebabkan kanker paru paru karena seluruh riset yang ada adalah koresional, bukan? Merokok mungkin dapat menyebabkan kanker paru paru seperti peringatan yang tertulis pada bungkus rokok, karena ini adalah riset koreasional, bukan eksperimental. Namun dimanapun ada dampak kausal, hubungan korelasional itu akan mengikutinya secara otomatis. Kada ada benarnya bahwa di mana ada asap, dimana ada api. Penghindaran penyebab ini telah berhasil digunakan industri tembakau lebih dari lima puluh tahun, sehingga tidak aneh jika industri pornografi juga mengikutinya dengan argument yang sama. Karena sedikitnya riset eksperimental yang telah dilakukan terhadap pornografi dan apa yang telah dilakukan lebih kepada yang sifatnya deskriptif atau korelasional, isunya menjadi kabur dan hasilnya disimpulkan bahwa pornografi tidak menyebabkan apa apa. Kehadiran korelasi antara ketereksposan terhadap pornografi dan masalah masalah sosial, psikologis, emosional, dan spiritual, adalah asapnya. Keterbatasan etis dan praktis dalam membuktikan bahwa ada api tidak secara langsung membawa kita kepada tempat dimana kita menyangkal bahwa api itu ada. Tempat yang lebih baik untuk memulai adalah menyadari bahwa pornografi merupakan faktor penyumbang terbesar terhadap banyak penyakit psikologis dan sosial.

References
Jacobellis v. Ohio. 1964.378, US.184
Bowring, Lyndon, ed. 2005. Searching for intimacy. 1997 (2nd ed) US Catholic Conference, Inc
Cooper, Al. 2000. Cybersex: the dark side of the force. Philadelpia: Brunner-Routledge
Cooper, Al.2002. Sex and the internet: a guidebook for clinicans. New York. Brunner-Rouledge
Jensen, R.G Dines and A. Russo. 1998. Pornography: the production and consumption of inequality, New York: Routledge
Jensen, Robert, 2007, Getting off: pornography and the end of masculinity, Cambridge, MA: South end press
Leahy, Michael, 2008, Porn nation. Chicago, IL: Northfield publishing
Lewis, CS, 1981, the pilgrism’s progress: an allegorical apology for Christianity, reason and romanticism. Grand rapids, MI: Eerdmans
Paul, P. 2005, Pornified: how pornography is transforming our lives, our relationships and our families, New York: Times books
“Pornography”,Dictionary.com (http://dictionary.reference.com/browse/prnography)
Rheingold, H.2000, the virtual community: homesteading on the electronic frontier, Cambridge, MA, MIT Press
Wolf, N. 2003, The porn Myth, New York, Magazine 20.